[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.19.5″][et_pb_row _builder_version=”3.19.5″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.19.5″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_text _builder_version=”3.19.5″]

Sudah lebih dari satu pekan ini, guru sejarah melakoni program diet ekstra ketat. Untuk melunturkan lemak perut yang memperlebar ukuran pinggang. Tak tanggung-tanggung kali ini ia jadi member dari perusahaan Amerika untuk kesehatan yang lambangnya daun hijau itu. Menggelontorkan harga jutaan rupiah tak masalah, asalkan perut mengecil dan berat badan turun drastis. Kita doakan saja ia sukses sesuai targetnya itu walaupun sedikit pesimis. Karena bukan kali ini saja ia mencoba mengecilkan berat badan.

Percobaan pertama, ia menjalani program gym disalah satu pusat fitnes. Bertahan berapa bulan. Lalu gagal total. Alasan pertama, karena jarak yang cukup jauh, sehingga lama kelamaan memberatkan langkahnya yang pada akhirnya menimbulkan rasa malas. Alasan kedua karena takut, setelah beberapa pria kekar mengedipkan mata kepadanya saat fitnes. Takut. Seram. Akhirnya lebih baik memilih mundur teratur dari pada disekap pria kekar, lalu diculik. Mau melawan pun jelas kalah tenaga. Lalu tak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya jika itu benar-benar terjadi. Ungtunglah pada akhirnya ia memilih berhenti.

Alasan ketiga lebih naas lagi. Bukan sehat yang didapat, melainkan penyakit yang bersarang tanpa ampun. Rawat jalan karena typus menyerang. Tragis sekali nasibnya. Apalagi sampai sekarang harus menjadi “pemakai” obat Traditional Chinese Medicine (TCM) berupa ekstrak cacing yang secara terus menerus ia konsumsi. Jika tidak, badan akan terasa lemah, letih dan lesu. Dan ia begitu terpukau dengan khasiat obat itu malah tak sungkan ia promosikan. Mungkin karena pemakaian itulah, ide bisnis sempat menempel di kepalanya. Ia ingin jadi peternak cacing, lalu ia panen, cincang, goreng, giling lalu jual ke pengepul untuk dikemas menjadi kapsul.

Untung tak jadi, kalau benar-benar jadi, pastilah guru-guru akan bergidik ngeri melihat cacing menggeliat. Karena yang lebih aneh, ia akan beternak cacing di samping ruang guru dengan membuat kotak-kotak berisi tanah. Tak terbayang jika cacing-cacing itu merangkak keluar kotak lalu masuk ruang guru.

Sempat proposal penggalangan dana investasi ia buat untuk merealisasikan idenya itu. Bahkan beberapa guru sempat tertarik menanamkan modal. Yang paling semangat guru bahasa Arab, ia siap menguras tabungannya demi membantu merealisasikan ide itu. Belakangan ketahuan kenapa guru bahasa Arab begitu semangat, ternyata ia juga pengkonsumsi obat ekstrak cacing. Sangat simbiosis mutualisme sekali ternyata. Agar bisa memperoleh keuntungan sekaligus bisa mengkonsumsi secara gratis.

Guru lain yang sangat semangat menggarap ide aneh itu adalah jiprog, salah satu guru kejuruan farmasi. Malah mengompori dengan alasan sarat dan kaya akan pengalaman, pernah jadi manager apotik besar, bahkan ia meyakinkan kalau usaha itu akan berhasil dan mendulang sukses, karena banyak yang membutuhkan obat ekstrak cacing tersebut. Terlebih lagi yang kena penyakit typus, karena biasanya akan berulang. Tinggal guru fisika yang terbengong sambil tepok jidat mendengar mereka berdiskusi alot. Saling mendukung meyakinkan diri. Jangan tanya dimana pak tampan, karena ketika ide bisnis ini dimunculkan ia belum jadi karyawan. Masih mengembara dalam perjalanan ke Barat mencari jati diri dan menempa diri agar menjadi manusia paling tampan di muka bumi.

Pesan moralnya, guru sejarah sedang mengajarkan kepada kita makna konsistensi. Bahwa niat itu harus terus dijalankan apapun resikonya. Masalah hasil akhir jangan dipikirkan. Yang penting fokus dan kuatkan tekad agar cita-cita dapat digapai dengan sempurna. Kalau gagal, terus dicoba. Gagal lagi, coba lagi dengan jalan yang berbeda. Jangan patah arang, dan terlalu memikirkan apa yang orang lain katakan. Jadi diri sendiri tampaknya memang lebih menyenangkan dari pada menguras banyak tenaga, uang dan waktu hanya untuk menjadi orang lain.

AF

(Beberapa episode ke depan masih bersambung dengan edisi konsistensi ini. Mengingat panjangnya tulisan ini, dan menghindari kebosanan pembaca, maka editor memotong menjadi beberapa bagian. Terus kunjungi cerita “ruang guru” setiap senin. Mohon bantuannya untuk menyebarkan di media sosial anda!)

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Leave a Comment