Dia bukan guru. Dia salah satu karyawan TU yang seringkali ditunggu-tunggu di ruang guru. Dan menariknya tugasnya terkadang melebihi guru, semua pekerjaan penting dan beresiko ia lakoni. Tugas utamanya adalah menginput data dapodik siswa, guru dan karyawan. Ini butuh kejelian dan konsentrasi yang tinggi. Bagaimana tidak? lengah sedikit saja, nama siswa, guru dan karyawan akan salah dan berakibat fatal. Yang paling parah bisa berefek pada data-data penting. Coba bayangkan jika ia salah dalam menginput data guru atau karyawan, yang seharusnya bernama Siti Hartina Ismaresy, lantas karena kelalaian berupa salah dalam pengetikan bisa menjadi Siti Hartina Febiyanto, entah berapa banyak kerugian materi dan perasaan yang akan ditanggung oleh wanita itu? Walaupun bisa jadi wanita itu akan sangat bahagia jika ada nama febiyanto tersemat dibelakang namanya. Atau boleh jadi malah sangat mual. Hanya Allah Swt yang tahu.

Pekerjaan rutin selanjutnya adalah menemani bendahara sekolah menyetor atau menarik uang di bank untuk keperluan sekolah, jelas ini beresiko sangat berat, seberat bobot mereka berdua yang digabung menjadi satu. Jika motor itu bisa bicara, pastilah umpatan, cacian dan makian yang mereka berdua terima dari sang motor. (Tapi sudahlah jangan kita teruskan. Pura-pura tidak tahu saja. Saya yakin mereka tak marah).

Resiko pekerjaan ini juga sangat tinggi, (walau tak setinggi guru PPKn). Tapi setidaknya mari kita bayangkan, puluhan juta uang yang mereka tarik untuk menggaji guru dan karyawan setiap bulannya. Jika terjadi yang tidak diinginkan, saya tak habis pikir, apa jadinya mereka berdua? Mungkin menerima, sumpah serapah, umpatan, cacian, hinaan tujuh turunan karena guru dan karyawan tak gajian.

Oleh karenanya tolonglah bagi para guru hargailah tugas bendahara minimal dengan mengisi absen setiap harinya, jangan telat, dan terlebih lagi tolong jangan mengisi absen dihari minggu dan tanggal merah. Karena itu perbuatan tercela, keji dan sangat memalukan. Gaji boleh tak seberapa, tapi harga diri perlu terus dijaga.

Pekerjaan selanjutnya yang tak kalah penting adalah keahliannya menginstal dan memperbaiki software laptop guru dan karyawan jika bermasalah. Namun di balik kelihaiannya menginstal ternyata berbanding terbalik dengan keahliannya itu. Ia sangat kesulitan menginstal hatinya sendiri, terlebih sejak beberapa bulan yang lalu ketika ia dikhianati sang pujaan hati yang tega menikah dengan orang lain. Terpukul. Sakit menghujam jiwa. Perih menyayat hati. Untuk peristiwa ini kita doakan saja semoga ia mampu mengambil hikmah dari kejadian yang ia alami. Dan semoga tak ada lagi pria-pria di luar sana yang merasakan penderitaan seperti yang ia rasakan. (Sebenarnya ada satu pria lagi yang kisahnya hampir sama. Seorang guru. Tapi nanti. Tahan dulu. Jangan sekarang. Pengenalan tokoh yang akan datang saja.)

Ada satu lagi pekerjaan yang penting dan orientasinya lebih kepada akhirat, dan semoga ia akan mendapat pahala yang berlimpah. Ia didaulat untuk menjadi imam tetap sholat ashar di musholla Asy-Syifa. Tak boleh ada yang mencoba menggeserkan posisinya ini. Karena ini sudah menjadi keputusan bersama yang mengikat dan memiliki kekuatan hukum tetap. Jangan ada yang mengganggu gugat. Bahkan ajaibnya, sebelum iqomat dilafazkan ia sudah berdiri dua langkah di depan makmum. kami mengerti. Jangan coba-coba merebut sajadah imam. Menempati posisi imam di waktu ashar berarti siap-siap akan menerima serangan virus terojan darinya yang akan ia kerahkan untuk merusak jaringan otak hingga keakar-akarnya. Setelah orang itu terkapar barulah itu ia akan tertawa terbahak-bahak sambil berkacak pinggang dan perutnya bergerak tunggang langgang seolah berontak naik dan turun. Sangat imajinatif.

Tak perlulah aku sebutkan siapa namanya, yang jelas para guru dan karyawan SMK Aisyiyah pasti sangat mengenalnya. Tapi bagi anda yang tak mengenalnya, bolehlah memanggil namanya dengan sebutan “tampan”. Karena ia salah satu tokoh utama di cerita ini. Mungkin 2/3 kisah di cerita bersambung ini akan selalu menyebut namanya. Janganlah tuan dan puan bosan. Karena saya yang bercerita pun tak akan bernah bosan menuliskan namanya. Apalagi anda yang cuma membaca dan tertawa. Nikmati saja.

Mengapa ia tokoh pertama yang saya ingin sebutkan dalam cerita ini? Karena pertama, dialah orang yang akan memposting tulisan-tulisan saya, jadi sebagai penghargaan yang tulus dari saya selaku penulis untuk jasanya itu. Kedua karena ia tak pernah marah, selalu tersenyum dan selalu riang gembira. Mau dihina, caci maki, ia tak pernah marah, yang akan dia ucapkan ketika orang mengejeknya adalah dengan kata-kata “cukuplah Allah yang akan membalaskannya untukku”. Sungguh kesabaran tingkat tinggi yang sulit dicari tandingannya.

Agar kisah ini penuh hikmah dan ada nilai pembelajaran yang bisa dipetik, dan si tokoh punya nilai jual pada cerita-cerita selanjutnya. Akan saya ceritakan pengalaman pribadi penulis bersama pak “tampan” (walaupun hanya satu cerita di antara puluhan cerita yang akan nanti akan anda baca).

Suatu hari ada siswa yang ingin memperbaiki ponselnya yang rusak. Siswa ini menahan air mata karena tak kuasa menanggung beban penderitaan, ponselnya mati total setelah jatuh dari pegangan dan membentur lantai. Sambil menahan kesedihan ia menghampiri Pak “tampan” dengan harapan semoga Pak “tampan” bisa memperbaiki ponselnya itu.

Dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, jari-jemari Pak “tampan” menari di atas keypad ponsel itu. Ajaib. Luar biasa. Hitungan detik ia telah memperbaiki ponsel itu. Siswa itu sumringah bahagia bak kuda liar jantan yang bertemu kuda betina. Liar. Tak terkendali. Sujud telapak tangan tak lupa dilakukannya kepada pak tampan tanda suka cita. Lalu beranjak meninggalkan ruang guru dengan senyuman lebar. Tak lupa pula diakhiri dengan ucapan terimakasih.

Ketika siswa tersebut telah menghilang dari pandangan, aku pun berargumen singkat.
“seharusnya kau tentukan tarif pan. Paling tidak di bawah harga pasaran service konter HP lah.” Mencoba membuka obrolan dengan nada datar sembari membolak-balik halaman koran hari itu.

Namun jawaban yang sangat menohok darinya,
“Ga perlulah pak, lagian ga seberapa juga memperbaiki itu, dan cukup Allah yang membalasnya untukku Pak.”

Aku diam. Tak bisa bicara. Sedikit tercengang. Mulia sekali makhluk ini. Gumamku dalam hati.

“Memangnya tadi rusak apanya Pan?” Tanyaku serius dan demi menyembunyikan rasa tak enakku padanya aku carilah pertanyaan untuk menyegarkan suasana kembali. Karena aku takut ia mencapku sebagai manusia berjiwa materialistik.

“Hanya masalah kecil pak.” Jawabnya singkat.
“Ya apa?” Tanyaku penasaran.
“Bapak guru fisika kan? Nah pasti tau bahwa masalah HP itu dikarenakan suplai listrik dari batrai terhenti, lalu mengakibatkan power untuk menyalakan HP jadi terhenti sehingga mekanisme rangkaian elektronika di HP itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.” Jawabnya begitu sistematis dan saintis.
Aku terpana mendengar penjelasannya. Memang wajar ia menjadi karyawan TU bagian IT pikirku. Lalu aku lanjutkan bertanya.
“Sederhananya jadi HP itu masalahnya apa ya pan?” Tanyaku serius.

Dia diam seribu bahasa. Bertafakkur. Memejamkan mata. Aku semakin kagum. pastilah ia sedang memikirkan bahasa mudah untuk bisa aku cerna agar bisa mengerti dengan mudah.

Seketika mulutnya mulai terbuka, lalu menjawab pertanyaanku.

“Batrenya aja pak yang kebalik tadi. Mungkin waktu ponselnya jatuh lalu panik dan salah pasang batre.”

Krik…krik…krik…krik…

Aku tercengang. sedikit geram mendengar jawabannya itu. Aku pikir masalah berat yang butuh solusi hebat ala pakar IT apalagi dengan bahasa sok saintis itu. Ternyata masalah siswa tersebut hanyalah terbalik memasang batrai HP. Tapi berlagak layaknya sebuah masalah besar dan sangat membutuhkan solusi besar.

Kalau tak sadar aku di ruang guru. Pastilah cajon yang sedang kududuki itu menancap di kepalanya dengan sempurna.

Kutinggalkan saja dia sendiri di ruang guru. “Matilah engkau dalam sepi pan.” ujarku lirih.

AF