
Prolog
Ruang itu kecil. Sesak. Penuh buku. Tugas siswa yang berdebu. Kertas berserakan. Sunyi, jika tak berpenghuni. Riuh, jika menjelang makan siang dan pergantian jam mengajar. Itulah ruang guru. Tempat “bermeditasi” mempersiapkan materi ajar, atau sekedar melemparkan obrolan santai seputar masalah kehidupan. Paling simpel yang bisa dilakukan di ruang guru adalah “berhibernasi” sembari menumpang wifi di saat harga kuota makin menggila dan gaji guru tak seberapa, guru dihadapkan antara kebutuhan eksis dunia maya dan kebutuhan hidup yang memusingkan kepala.
Inilah yang aku suka jika berada di dalamnya, tempat yang dirindu jika sudah mengajar. Sayang tak ada alat pijat refleksi di dalamnya, agar para pemberi ilmu itu bisa segar setelah mengajar. Atau ada alat gym, agar guru bisa berolahraga setelah mengajar, seperti markas besar Google atau Facebook yang full service area. Ini bukan sekedar curahan hati semata. Realitanya, siapa yang bisa berdiri berjam-jam, berbicara berjam-jam dan mengajarkan banyak hal berjam-jam kecuali guru? Maka wajar jika guru ingin bermanja-manja jika setelah mengajar. Tapi setidaknya ada alat akustik, yang dimainkan selepas makan siang, menghibur disaat jeda, persis kafe malam yang temaram. Walau tubuh tak bugar, minimal hati menjadi segar.
Hal lain yang ajaib adalah, jika guru begitu anggun, kharismatik, bahkan terlihat perfeksionis di dalam kelas, berbeda jauh jika di ruang guru. Kekanak-kanakan. Tingkah membingungkan. Tak ubahnya remaja kecil yang sedang mengalami pubertas tinggi, emosional, mudah tersentuh dan sedikit tak masuk akal. Tapi hal itu jarang terekspos, mungkin karena itu pulalah ruang guru jauh dari kelas, agar siswa tak melihat tingkah mereka. Atau begitu pula yang membuat ruang guru tak berdekatan langsung dengan ruang Kepala Sekolah, karena bisa jadi, kepala sekolah akan risih dan terganggu dengan obrolan-obrolan tak berarti dan tak punya nilai tinggi itu. Apalagi suara keras disaat tertawa, persis suara cekikikan kuntilanak, pocong, genderuwo atau mak lampir yang menakut-nakuti manusia. Seram.
Tapi bagaimanapun, itulah ruang guru. Tak perlu menjadi manusia berbeda untuk berada di dalamnya. Aku akan menceritakannya untuk kalian semua. Bagi para guru, inilah kehidupan kecil kita yang harus kita ingat kembali dan terkadang kita tertawai. Bagi para siswa, inilah kehidupan hebat yang dilakoni para guru kalian, mereka adalah para artis sesungguhnya yang harusnya kalian jadikan idola. Bukan artis korea yang mukanya telah dipermak dimana-mana, disuntik cairan silicon dan lebih banyak menampilkan peran imajinasi tak bermakna. Belajarlah dari guru yang di satu sisi mereka mempertunjukkan seni tingkat tinggi bernama mengajar, namun di sisi yang lain mereka hidup selayaknya manusia normal untuk melakoni dunia peran sebagai manusia yang banyak masalah.
Tunggulah episode-episodenya dengan rindu, agar kami semangat terus untuk menceritakan dan menulis. Bacalah tiap episode-episode selanjutnya dengan kecerdasan, agar ada hikmah yang bisa diambil dan tidak menjadi cerita sia-sia. Bagikan kepada siapa saja episode demi episode selanjutnya agar menjadi amal ibadah yang bisa berbuah di akhirat. Kami tidak mencari adsense dari google atau endorse produk (walaupun kalau ada juga pasti diambil). Kami adalah guru yang haus akan pahala, karena kami tahu hanya amal ibadah yang mampu menghantarkan kami ke syurga. Terimakasih doa dan dukungannya.
AF