[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.0.47″][et_pb_row _builder_version=”3.0.48″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.0.47″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_text header_font_size=”61px” header_letter_spacing=”15px” animation_style=”bounce” _builder_version=”3.19.5″ header_font=”ABeeZee|700|||||||” header_5_font=”||||||||” header_text_color=”#000000″ header_line_height=”1.1em”]

Karakter

[/et_pb_text][et_pb_image align=”center” max_width=”53%” filter_brightness=”82%” animation_style=”fade” animation_duration=”800ms” src=”https://smkaisyiyahplg.sch.id/wp-content/uploads/2019/01/fine-art-photo-books-18pp_w900_h598.jpg” _builder_version=”3.19.5″ border_width_all=”4px”][/et_pb_image][et_pb_text text_font_size=”13px” text_letter_spacing=”1px” text_line_height=”2.2em” text_orientation=”justified” max_width=”67%” animation_style=”fold” animation_direction=”top” _builder_version=”3.19.5″ header_font=”ABeeZee||||||||” text_font=”ABeeZee||||||||” module_alignment=”center” border_width_left=”8px” border_style_left=”none”]

     Ini bukan mukadimah, ini hanya lanjutan kisah dari “prolog” sebelumnya. Bicara mengenai ruang guru, tentunya akan berkaitan dengan esensi guru itu sendiri. Guru di mata dan di pikiran para penikmat ilmu (baca:siswa) pasti memiliki nilai tersendiri. Diam-diam mereka menyimpan kagum, ada pula yang mengidolakan layaknya artis muda Indonesia yang sedang hits-hitsnya seperti Iqbal Ramadhan dengan filmnya yang membooming (Dylan 1990) atau Jeffry Nichole di filmnya yang dramatis (Dear Nathan). Hingga saking idola dan “cinta”nya terhadap guru tersebut, siswa-siswa tadi mencoba untuk mendalami dan mengetahui lebih banyak tentang kehidupan sang guru dengan cara rajin menstalking media sosial atau bahkan dengan sering melakukan interaksi komunikasi kepada guru baik secara langsung maupun melalui chat pribadi ke WhatsApp sang guru idola. Tak tanggung-tanggung saking nge-fansnya mereka sampai rela berkorban baik secara moril maupun materil untuk mengikuti hobi guru favoritnya tersebut, misalkan gurunya suka dengan puisi, maka mereka pun akan berusaha untuk menyukai dan membuat puisi, ada juga guru yang hobi dengan fotografi maka mereka pun akan mengikuti jejak sang guru untuk masuk ke dunia fotografi, tak tanggung-tanggung mereka ikut membeli kamera DSLR yang persis mirip dengan milik sang guru idola.
    Sebaliknya, tak sedikit pula dari para penimba ilmu tersebut yang baik secara pribadi ataupun berkaitan dengan metode belajar tidak begitu menyukai beberapa dari guru mereka. Tak kalah ekstrim perihal ini kadang mereka tunjukan secara langsung ketika bertemu dengan guru yang mereka kurang sukai, minimal mereka memasang wajah masam ketika bertemu baik di kelas maupun di lorong menuju kantor atau hanya sekedar “nyinyir” di dalam hati ketika melihat sosok sang guru yang mereka antipati.

    Hal ini sebenarnya wajar saja dimana setiap orang memiliki haknya masing-masing untuk menyukai atau tidak menyukai hal-hal atau orang-orang tertentu di dalam kehidupannya.

     Seyogyanya, semua itu terjadi karena adanya perbedaan karakteristik dari setiap guru. Kami tidak bisa disamakan atau dibanding-bandingkan. Kami punya ciri khas sendiri dalam membagikan ilmu, mungkin ada beberapa dari kami yang mirip “mukanya”, “postur tubuhnya”, “cara bicaranya”, “gaya berpakaiannya” atau “usianya” namun tetap ada yang membedakan dari kami, itulah yang disebut dengan karakter. Pada revisi kurikulum K13 ada poin yang ditambahkan yaitu tentang pendidikan karakter bagi siswa, itulah mungkin kenapa karakter menjadi hal yang penting, sebab karakter itu dapat mempengaruhi hubungan dan penilaian seseorang terhadap orang lain. Istilahnya bisa dibilang seperti ini, “pembunuhan karakter lebih kejam daripada pembunuhan yang sebenarnya”

    Kembali lagi kepada hakekat guru sendiri, sebenarnya guru itu unik, unik bukan karena kemampuan mereka menghipnotis atau mengalihkan perhatian siswa untuk fokus ketika sedang belajar di kelas, bukan juga karena kemampuan guru yang “multi talent” karena selain harus mampu menyampaikan materi, guru kadang2 juga harus bisa melawak (terutama di jam-jam siang menjelang sore dimana siswa mulai letih dan mengantuk), guru dituntut juga untuk bisa membimbing dan membantu memecahkan masalah siswa-siswanya (menggali) walaupun background pendidikan yang bukan berasal dari jurusan psikologi, kemudian guru berkewajiban untuk lebih sering “mengingatkan” dan membimbing siswa-siswanya dalam kebaikan dan selalu ingat kepada sang Maha Pencipta meskipun untuk hal ini kadang guru harus rajin menonton kajian video beberapa uztad ternama di YouTube sekaligus berusaha memperbaiki diri hari demi hari (dan itu bukan hal yang mudah).

       Dari semua paradigma guru di atas, semoga ada benang merah yang bisa ditarik. Sebenarnya kami para guru tidak berharap lebih, tak haruslah kalian menyukai dan mengidolakan kami terlalu berlebih, tak ingin pula kami tak disukai oleh kalian, jika memang ada kekurangan ya itu karena kami hanyalah manusia biasa yang berprofesi menjadi guru. Seperti halnya para siswa yang harus belajar, guru pun sama, kita sama-sama belajar.

       Cukuplah kalian rasakan ketulusan kami, kesungguhan kami dalam pengharapan besar agar kalian sukses di masa depan. Tak perlu kalian payah memuja atau memuji, cukuplah rasa menghormati dan menghargai sebagai sesama manusia, terlepas dari peran masing-masing. Semoga ada kebaikan dari setiap episode tulisan yang kami tulis, semoga ada manfaat di dalamnya yang kalian petik. Nantikan tulisan-tulisan kami selanjutnya, cukup ditunggu saja, usahlah rindu karena rindu itu melelahkan.
        Sekali lagi kami tidak mencari adsense atau endorse produk meskipun kalau ada tentunya tidak akan kami tolak. Terima kasih karena sudah membaca, doakan dan support terus ya.

 

Palembang, 25 Januari 2019
Bny (F.I)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]