[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.19.5″][et_pb_row _builder_version=”3.19.5″][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.19.5″ parallax=”off” parallax_method=”on”][et_pb_text _builder_version=”3.19.5″]
Hiburan Ruang Guru

Mengapa guru butuh hiburan? Karena waktu guru banyak dihabiskan untuk hal-hal yang serius dan menguras energi. Guru matematika menghabiskan waktunya untuk menganalisa angka, persamaan, integrasi, akar, pangkat, yang membuat kerutan-kerutan dahi mereka semakin terlihat. Belum lagi, berhadapan dengan siswa yang kapasitas otaknya di bawah normal dan susah tangkap. Semakin membuat guru matematika boros wajah alias wajah menipu usia. Walaupun ada guru matematika yang semakin “subur” ketika melihat anak didiknya tak paham-paham. Setiap marah, nafsu makan bertambah. Namun lucunya semakin ia marah kami semakin bahagia, karena akan banyak makanan yang tersedia. Malah kami mendorong ia untuk terus marah agar semakin banyak yang bisa kami nikmati ketika perut lapar. Sangat parasitisme sekali.
Guru sejarah lebih butuh hiburan lagi. Karena banyak waktu bercerita kisah masa lampau. Berdiri di depan kelas hanya untuk bercerita sesuatu yang lampau dan kuno. Persis seorang kakek yang betah berlama-lama bercerita kepada cucunya di atas kursi goyang. Sang kakek terus bercerita, namun sang cucu tidur. Bosan. Ngantuk. Lalu terlelap. Namun untuk kasus ini jangan coba-coba tidur ketika guru sejarah sedang mengajar. Pastilah ia murka. Kalau guru sejarah telah murka, mata sipit itu menjadi melotot melebihi lebar frame kaca matanya yang begitu ia banggakan itu (apalagi kacamata itu bisa ganti-ganti warna kaca. Jika ke pantai warna favoritnya pastilah hitam agar bisa bebas memutar-mutar mata memandang sekitar). Jika ia sedang marah, persis sumpah palapa yang diucapkan patih gajah mada. Atau bisa jadi spidol itu berubah menjadi kekuatan dahsyat bak keris empu gandring yang siap melesat mengenai jidat siswa yang tertidur. Sadis memang. Tapi memang begitulah guru sejarah. Diamkan saja. Memang ia sedang banyak masalah. Terutama masalah hati.
Lain lagi guru bahasa Arab. Tampaknya guru ini lebih lagi butuh hiburan. Bayangkan betapa lelahnya ia mengajarkan bahasa Arab (yang menurut pakar bahasa termasuk jenis bahasa yang punya tingkat kesulitan tinggi) padahal kebanyakan siswa belum mengenal huruf hijaiyah. Dan rata-rata tingkat mengajinya level iqra. Pastilah sangat Lelah. Tak ada hasil. Sia-sia. Akhirnya tak ada cara lain, bercerita di kelas menghabiskan jam pelajaran. Alhasil tiga tahun bersusah payah mengajarkan bahasa arab, sang siswa hanya paham kata ana, anta, kirdun atau kalimat, kaifa haluk? Atau yang agak keren sedikit kalimat ana uhibbuki fillah, pastilah kalimat ini disimpan untuk menembak sang kekasih biar dikira sholeh dan bisa bahasa arab. Sangat ironis nasib sang guru, lelah dan tak berdaya. Padahal bahasa arab adalah bahasa surga. Ya sudahlah banyak bersabar dan istighfar akhi. Seperti pepatah arab sajalah, man shabara zhafira.
Setali tiga uang dengan guru kejuruan. Hiburan mutlak dilakukan, waktu mereka terkuras untuk mengajarkan semua hal tentang kejuruan baik farmasi maupun kimia industri. Memikirkan agar anak didik bisa mengerti materi mereka. Memaksakan konsep dan pemahaman yang membantu kompetensi mereka. Sangat membutuhkan hiburan tapi hiburannya lebih kepada liburan. Makanya wajar jika jiprog (salah satu guru kejuruan) sangat menjiwai ketika ada wacana liburan. Namun sama layaknya guru sejarah. Liburannya jelas pantai. Karena mereka berdua sama-sama punya kesamaan. Yaitu sama-sama punya kaca mata hitam. Sangat membantu sekali punya kaca mata hitam jika dipantai. Itu kata mereka, bukan kata penulis. Penulis hanya mengutip dari isi kepala mereka.
Pak tampan selaku pemegang kendali data dapodik juga butuh hiburan. Memang ia bukan guru, tapi tetap butuh hiburan. Minimal untuk mengendurkan urat-urat ketempanannya yang tegang. Kalau tak ada hiburan ia bisa sakit, izin tak masuk kerja. Jika izin tak masuk maka yang kecewa adalah guru, tak ada lagi keceriaan jika tak ada pak tampan. Tak ada quotes of the day yang bisa dipajang di ruang guru. Tak ada pepatah-pepatah bijak lagi. Tak ada hingar bingar riuh rendah ketika ia masuk ruang guru. Sangat fenomenal sekali.
Jadi hal sekecil apapun sebisa mungkin menjadi hiburan. Begitu pula di ruang guru. Semisal keadaan ruang guru lengang, damai, namun kering akan makanan kecil atau kering dari tumpukan kue kering yang biasanya menghiasi meja guru. Maka janganlah coba-coba siswa masuk ruang guru. Jadilah mereka sasaran guru untuk mencari hiburan. Jika siswa hendak mengambilkan sesuatu untuk guru yang sedang mengajar, sudah pasti dua atau tiga kali bolak-balik dari kelas ke ruang guru karena dipermainkan oleh guru yang sedang berada di ruang guru. Terpingkal-pingkal melihat siswa yang keringatnya mengalir deras akibat bolak-balik lantai tiga ke ruang guru. Namun bagi siswa bisa jadi ini pengalaman berharga untuk mereka. Pengalaman sekaligus pengetuhuan bahwa guru mereka jika kurang hiburan persis anak kecil yang jahil. Amat sangat tak terkendali. Ironisnya mereka para guru itu sarjana, yang ilmu pengetahuan sehingga logika mereka jauh lebih cepat dan sistematis untuk melakukan tipu daya.
Jangan tanyakan kekompakan guru jika butuh hiburan. Kolaborasi acap kali hadir sebagai intrik paling orisinil dari guru. Jika ada satu guru yang sedang menjahili siswa, seperti serdadu guru lain berjibaku meyakinkan siswa untuk salah. Jika tak berhasil, maka senjata terakhir dilakukan. Marah. Melotot. Agar siswa kecut dan pucat dan akhirnya misi sukses. Semua terpingkal-pingkal.
Tapi tetap saja siswa ikhlas dan tak marah. Karena ketika ditanya apakah mereka marah? Jawabannya sederhana. Tidak. Jawaban tidak itu cukuplah bagi kami agar tak ada masalah dikemudian hari. Setidaknya apa yang diceritakan ini bukan sesuatu yang selalu terjadi. Atau bentuk bully kepada siswa. Sekali lagi tidak. Tapi cara agar ruang guru gemuruh dengan semangat.
Dan yakinlah ini hanya cerita. Jangan dianggap serius. Tak sepenuhnya yang di ceritakan ini fakta. Persis seperti pengantar sinetron “hanya hiburan semata”. Jadi sudilah kiranya ada yang bersedia menghibur kami para pendidik ini. Karena sungguh, kami butuh hiburan agar hilang penat dan kejenuan kami.
AF
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
Recent Comments